Tip Ibadah
Adab Berdoa dan Berzikir
- Created on Tuesday, 29 May 2012 09:20
- Published Date
- Hits: 400
Dalam memanjatkan doa kepada Allah SWT atau membaca zikir haji dan umrah, hendaknya kita mengikuti beberapa adab berikut ini.
1.Tidak mengonsumsi makanan atau minuman yang diharamkan;
2.Memanjatkan doa atau membaca zikir dengan hati yang ikhlas;
3.Sangat dianjurkan mengerjakan shalat terlebih dahulu, sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Abu Darda` bahwa Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa berwudhu dengan baik, mengerjakan shalat dua rakaat, lalu berdoa, Allah SWT akan memperhatikan permintaannya. Dia akan mengabulkannya dengan segera atau menundanya.”;
4. Khusyu’, konsentrasi, dan tenang;
5. Merendahkan suara dan berharap sepenuh hati doa kita dikabulkan;
6. Mengulang doa atau zikir beberapa kali dan tidak berputus asa;
7. Tidak berdoa untuk melakukan perbuatan dosa.
*diambil dari Doa-Zikir Haji & Umrah yang Dilakukan Rasulullah & Ulama
Berkat Shalat Hajat (1)
- Created on Tuesday, 29 May 2012 09:21
- Published Date
- Hits: 302
Dalam kitab Abjadul ‘Ulumil Wasyi Al-Marqum fi Bayani Ahwalil ‘Ulum karya Shadiq bin Hasan Al-Qanuji, disebutkan suatu riwayat dari Hasan. Anas berkata, “Ada seorang pedagang laki-laki yang dipanggil dengan nama Abu Mughlaq. Ia adalah sahabat Nabi Muhammad saw dari kaum Anshar. Ia mengembara ke berbagai pelosok negeri untuk berdagang, baik berdagang barang miliknya sendiri maupun milik persekutuan. Ia adalah orang yang taat beribadah dan selalu menjaga dirinya untuk tidak memakan barang subhat (tidak jelas hukumnya) apalagi haram.
Suatu ketika, Abu Mughlaq keluar rumah dan bertemu dengan seorang perampok yang bertopeng dan bersenjata. Perampok itu berkata kepadanya, “Letakkan apa yang kamu bawa, aku akan membunuhmu!”
Abu Mughlaq menjawab, “Kenapa kau ingin membunuhku? Ambil saja hartaku sesukamu.”
“Kalau harta, aku sudah punya. Aku hanya menginginkan nyawamu,” kata perampok itu.
Abu Mughlaq menjawab, “Jika kamu bersikukuh demikian, izinkan aku mengerjakan shalat empat rakaat.”
“Lakukan saja!” kata si perampok. Abu Mughlaq pun berwudhu dan shalat empat rakaat. Saat melakukan sujud yang terakhir, ia berdoa,
“Wahai Dzat Yang Maha Pecinta, wahai yang memiliki ‘Arsy yang mulia, wahai yang melaksanakan apa yang Engkau inginkan, aku memohon kepada-Mu dengan kemuliaan-Mu yang tidak dilemparkan dan kerajaan yang tidak dihimpunkan dan dengan cahaya-Mu yang meliputi rukun ‘Arsy-Mu, cegahlah kejahatan pencuri ini. Wahai Dzat Yang Maha Penolong, tolonglah aku.”
Saat itu, secara tiba-tiba muncul seorang penunggang kuda yang memegang tombak yang diletakkan di antara kedua telinga kudanya. Penunggang kuda itu lalu mendatangi si perampok dan menikamnya hingga mati. Penunggang kuda itu lalu menemui pedagang yang taat beribadah tersebut dan berkata, “Berdirilah!”
Dengan keheranan, pedagang itu bertanya, “Demi bapak dan ibumu, siapakah kau? Allah menyelamatkanku dengan perantaraanmu hari ini.”
Penunggang kuda itu menjawab, “Aku adalah malaikat penghuni langit keempat. Ketika kau memanjatkan doamu yang pertama, aku mendengar pintu langit bergemuruh. Ketika kau memanjatkan doamu yang kedua, aku mendengar penghuni langit gaduh. Ketika kau memanjatkan doamu yang ketiga maka disampaikan kepadaku, “Ini adalah doa orang yang sedang dalam kesusahan. Aku lalu memohon kepada Allah agar mewakilkanku untuk membunuh perampok itu.”
Hasan berkata, “Barangsiapa berwudhu, lalu mengerjakan shalat empat rakaat dan memanjatkan doa di atas maka doa itu akan dikabulkan baginya, baik ia sedang dalam kesulitan maupun tidak.”
*diambil dari The Ultimate Power of Shalat Hajat
Berkat Shalat Dhuha (2)
- Created on Tuesday, 29 May 2012 09:21
- Published Date
- Hits: 291
Di Kuffah, Irak, ada seorang kuli barang yang namanya cukup terkenal. Orang-orang sangat mempercayainya. Karena sifatnya yang jujur dan terpercaya, para pedagang banyak yang menitipkan barang atau uang kepadanya. Suatu ketika saat sedang dalam perjalanan, ia bertemu dengan seorang laki-laki.
Laki-laki itu bertanya, “Engkau mau ke mana?”
“Aku akan ke kota,” jawab kuli itu.
“Aku juga akan ke sana. Aku bisa saja berjalan kaki bersamamu, tapi bagaimana jika aku menumpang keledaimu dengan ongkos satu dinar?” tanya laki-laki itu. Kuli itu pun setuju.
Ketika sampai di persimpangan jalan, laki-laki itu bertanya, “Jalan manakah yang akan engkau lalui?”
“Jalan besar ini,” jawab kuli itu.
Penumpang itu menyergah, “Jalan yang satu ini lebih dekat dan lebih mudah bagi binatang karena banyak rumput di sana.”
“Aku belum pernah melewati jalan ini,” kata kuli itu.
“Aku sering melewatinya,” sahut si penumpang.
“Baiklah, kalau begitu,” jawab si kuli.
Mereka akhirnya melalui jalan itu. Beberapa lama kemudian, mereka tiba di sebuah hutan yang banyak terdapat mayat manusia. Tiba-tiba, penumpang tadi melompat dari keledai yang ditungganginya dan mengeluarkan pedang dari balik punggungnya untuk membunuh kuli tadi.
“Jangan!” teriak kuli itu, “ambillah keledai dan semua barangnya, tetapi jangan bunuh aku.”
Laki-laki itu tidak memedulikan tawaran tersebut. Ia bahkan bersumpah akan membunuhnya dan mengambil semua barangnya. Kuli tersebut ketakutan, namun si laki-laki penumpang tidak peduli sama sekali. Akhirnya, kuli itu berkata, “Baiklah, izinkan aku mengerjakan shalat dua rakaat untuk terakhir kalinya.”
Sambil tertawa, penumpang itu mengabulkan permintaan kuli tersebut. “Silakan saja! kata penumpang itu, “mereka yang telah mati ini pun juga meminta hal yang sama kepadaku sebelum kubunuh, tapi shalat mereka ternyata tidak menolong sedikit pun.”
Kuli itu segera melaksanakan shalat. Akan tetapi, setelah membaca Surat Al-Fatihah, ia tidak dapat mengingat satu surat pun untuk dibaca. Sementara itu, penumpang tersebut menunggu sambil terus berteriak, “Cepat, selesaikan shalatmu!”
Tanpa sengaja, sambil menangis, kuli itu membaca ayat berikut.
“Atau, siapakah yang memperkenankan do'a orang yang ada dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya dan yang menghilangkan kesusahan...” (QS. An-Naml [27]: 62)
Setelah membaca ayat itu, tiba-tiba muncul seorang penunggang kuda dengan topi yang terbuat dari besi. Ia datang dan menikam tubuh penumpang tersebut hingga mati. Di tempat mayat penumpang itu terkapar, tiba-tiba muncul kobaran api.
Kuli itu langsung bersujud syukur ke hadirat Allah SWT. Ia lalu berlari ke arah penunggang kuda tersebut dan bertanya, “Siapakah engkau dan bagaimanakah engkau datang?”
Ia menjawab, “Aku adalah hamba dari ayat yang kau baca tadi. Sekarang, kau aman dan bisa pergi ke mana pun sesukamu.” Setelah berkata demikian, orang itu menghilang.
*diambil dari The Ultimate Power of Shalat Hajat